Kamis, 31 Juli 2014

Sejenak Berada di Pulau Terujung Jakarta




@Aryeenmita, Kepulauan Seribu, - Memang sih  perjalanan saya kali ini tidak disengaja. Berhubung di telepon Atasan, ya, saya berangkat saja karena ada CSR sebuah bank swasta. Tapi, karena memang suka bertualang, saya  benar-benar menikmatinya dan menemukan“Harta Karun” .

Kala itu, saya melipir dulu ke Pantai Marina Ancol. Sebab inilah dermaga yang mengantarkan saya menuju  Pulau Sabira, bagian dari gugusan Kepulauan Seribu.  

Perjalanan Tiga Jam

Saya pun naik Speed boat bersama teman-teman lainnya. Dan lumayan banget deh, perut saya terkocok-kocok hampir tiga jam. Wuih, dahsyat! Untung, di awal perjalanan, saya sempat minum antimo. Tapi, lumayan lah, saya enggak terlalu mual. Maklum, ombaknya agak tinggi.

Kisah Penduduk hingga Camilan

Begitu tiba di Pulau Sabira, saya  mencium bau laut. Lalu, ada deretan kapal-kapal nelayan  seakan menyapa Anda. Tentu saja, warga sekitar yang sudah berkumpul di area dermaga  dan siap memberikan senyuman.

Begitu masuk  ke dalam pulau, terlihat  deretan rumah kayu yang berjejer. Rata-rata di sini, rumahnya tingkat.  Boleh dibilang, “kampung” di sini rapi dan bersih. 

Beruntung, saya boleh  istirahat di salah satu rumah warga , yang juga ketua RW, Ibu Hajjah Hartuti (68 tahun).Ternyata, Ibu Hajjah  ini sudah tinggal di Pulau Sabira ini sejak tahun 1978.
“Dulu pulau ini luasnya 10 hektar, sekarang tinggal 8,5 hektar. Kini, ada 152 KK dengan jumlah jiwa sebanyak 555 jiwa,” ungkap Hartuti kepada @Aryeenmita.

Selain itu, beliau bercerita bahwa di Pulau ini tidak ada pasojan listrik. Tapi, listrik berasal dari  PLTS  (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD  (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Oh, pantas saja di beberapa titik terdapat PLTS, yang bentuknya menyerupai atap. Plts itu berada di dekat masjid, sekolah, dan lain sebagainya.

“Dari pagi sampai sore, kami menggunakan PLTS. Tapi, itu kalau ada matahari, kalau tidak, ya, tidak ada pasokan listrik. Dari jam 17.00 sampe jam 07.00 pagi, kami mengunakan PLTD,” ujar Hartuti.

Di sela-sela obrolan, @Aryeenmita disuguhi camilan khas warga Sabira. “Namanya kue barangko. Kue ini khas Bugis, terbuat dari olahan pisang kepok dan telur. Enaknya kalau dimakan saat dingin,” kata Hartuti.  

Mercusuar dan Pohon di pinggir Pulau

Mendengar dari kata teman-teman ada  mercusuar, saya pun berpamitan dengan ibu Hajjah Hartuti dan pergi menelusuri pulau.  Sepanjang perjalanan, saya benar-benar merasakan “Kampung” Nelayan. 

Ya! Ada ikan-ikan selar dijemur, selain pakaian yang dijemur tentunya. Lalu, ada juga kerupuk ikan yang dijemur.

Nah, begitu saya melewati masjid Nurul Bahri, P. Sabira, Kel. P.Harapan, Kec. P. Seribu Utara, Kab.Adm, Kep. Seribu, DKI Jakarta, yang diarealnya terdapat PLTS, pandangan saya tertumbuk pada mercusuar berwarna putih.

“Hei, kok putih ya? Kan, biasanya, cokla t ya,” saya membatin. Justru, karena beda dari mercusuar biasanya, saya langsung memotret dari kejauhan. Begitu didekati, ternyata tertulis:



Onder De Recering Van Z.M Willem III Koning  den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.

Wuih, saya enggak ngerti maksudnya. Maklum, belum belajar bahasa Belanda. Tapi, apa ini artinya Belanda sudah datang pada tahun 1869. Ugh, sayangnya, enggak ada orang yang bisa ditanyakan. Benar-benar sepi . Yang ada cuma deburan ombak aja. Ya, keles nanya sama rumput bergoyang? Wkwkwkwk….

Akhirnya, saya beranjak untuk  menyusuri pinggir pantai yang sudah ditembok—seperti benteng pendek—terdapat  sebuah pohon yang tumbuh sendirian. 

“Apa ini akibat abrasi ya?” tanya saya. Alhasil, kalau mau dibilang mana pantainya? Jadi bingung, karena sudah berbentur dengan laut dangkal.

Sekolah yang Modern

Saya juga menyempatkan berkunjung ke sekolah yang ada di sana. Tak disangka, sekolahnya ini lebih bagus dari kebanyakan SD dan SMP Inpres di Kota Jakarta.  Namanya SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira.

Sekolahnya ini berlantai keramik putih. Ada pula alat peraga yang lengkap. Bahkan, dilengkapi dengan pendingin ruangan (AC). Kelas benar-benar bersih. 

Begitu ditanya kepada salah satu guru, Haji Jamil Fahmi, sayangnya, AC tidak dapat digunakan setiap saat karena bergantung pada  kondisi PLTS.    

Yang memprihatikan, gedung yang ‘wah’ tak sepadan dengan tenaga pengajar. “Di sini gurunya  hanya 7 orang, padahal siswanya bisa ratusan. Jadi, ada yang ngajar dobel, SD dan SMP. Rata-rata anak-anak di sini pas SMA pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta,” ujar Haji Jamil.

Sebenarnya masih banyak segudang cerita. Tapi, sepertinya kata-kata ini tak pernah cukup. Tapi, yang jelas, inilah wajah  Pulau Sabira. Semoga masyarakat luas semakin peduli  dan Pemerintah juga benar-benar melakukan pemerataan pembangunan. Ini juga bagian Jakarta, yang dielu-elukan sebagai kota modern itu.  Jayalah terus Indonesiaku! Je t’aime ….

PS: Perjalanan  ke Pulau Sabira, Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar