@Aryeenmita,
Kepulauan Seribu, - Memang sih perjalanan saya kali ini tidak disengaja.
Berhubung di telepon Atasan, ya, saya berangkat saja karena ada CSR sebuah bank
swasta. Tapi, karena memang suka bertualang, saya benar-benar menikmatinya dan menemukan“Harta
Karun” .
Kala itu, saya melipir dulu ke
Pantai Marina Ancol. Sebab inilah dermaga yang mengantarkan saya menuju Pulau Sabira, bagian dari gugusan Kepulauan
Seribu.
Perjalanan
Tiga Jam
Saya pun naik Speed boat
bersama teman-teman lainnya. Dan lumayan banget deh, perut saya terkocok-kocok hampir
tiga jam. Wuih, dahsyat! Untung, di awal perjalanan, saya sempat minum antimo.
Tapi, lumayan lah, saya enggak terlalu mual. Maklum, ombaknya agak tinggi.
Kisah
Penduduk hingga Camilan
Begitu tiba di Pulau Sabira,
saya mencium bau laut. Lalu, ada deretan
kapal-kapal nelayan seakan menyapa Anda.
Tentu saja, warga sekitar yang sudah berkumpul di area dermaga dan siap memberikan senyuman.
Begitu masuk ke dalam pulau, terlihat deretan rumah kayu yang berjejer. Rata-rata
di sini, rumahnya tingkat. Boleh
dibilang, “kampung” di sini rapi dan bersih.
Beruntung, saya boleh istirahat di salah satu rumah warga , yang juga ketua RW, Ibu Hajjah Hartuti (68 tahun).Ternyata, Ibu Hajjah ini sudah tinggal di Pulau Sabira ini sejak tahun 1978.
“Dulu pulau ini luasnya 10
hektar, sekarang tinggal 8,5 hektar. Kini, ada 152 KK dengan jumlah jiwa
sebanyak 555 jiwa,” ungkap Hartuti kepada @Aryeenmita.
Selain itu, beliau bercerita bahwa di Pulau ini tidak ada pasojan listrik. Tapi, listrik berasal dari PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) dan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).
Oh, pantas saja di beberapa titik terdapat PLTS, yang bentuknya menyerupai atap. Plts itu berada di dekat masjid, sekolah, dan lain sebagainya.
“Dari pagi sampai sore, kami menggunakan PLTS. Tapi, itu kalau ada matahari, kalau
tidak, ya, tidak ada pasokan listrik. Dari jam 17.00 sampe jam 07.00 pagi, kami
mengunakan PLTD,” ujar Hartuti.
Di sela-sela obrolan, @Aryeenmita
disuguhi camilan khas warga Sabira. “Namanya kue barangko. Kue ini khas Bugis,
terbuat dari olahan pisang kepok dan telur. Enaknya kalau dimakan saat dingin,”
kata Hartuti.
Mercusuar
dan Pohon di pinggir Pulau
Mendengar dari kata
teman-teman ada mercusuar, saya pun berpamitan
dengan ibu Hajjah Hartuti dan pergi menelusuri pulau. Sepanjang perjalanan, saya benar-benar
merasakan “Kampung” Nelayan.
Ya! Ada ikan-ikan selar dijemur, selain pakaian yang dijemur tentunya. Lalu, ada juga kerupuk ikan yang dijemur.
Ya! Ada ikan-ikan selar dijemur, selain pakaian yang dijemur tentunya. Lalu, ada juga kerupuk ikan yang dijemur.
Nah, begitu saya melewati
masjid Nurul Bahri, P. Sabira, Kel. P.Harapan, Kec. P. Seribu Utara, Kab.Adm,
Kep. Seribu, DKI Jakarta, yang diarealnya terdapat PLTS, pandangan saya
tertumbuk pada mercusuar berwarna putih.
“Hei, kok putih ya? Kan,
biasanya, cokla t ya,” saya membatin. Justru, karena beda dari mercusuar
biasanya, saya langsung memotret dari kejauhan. Begitu didekati, ternyata
tertulis:
Onder
De Recering Van Z.M Willem III Koning
den Nederlande, ENZ., EnZ., ENZ., Opcerict Voor Draaslicht 1869.
Wuih, saya enggak ngerti
maksudnya. Maklum, belum belajar bahasa Belanda. Tapi, apa ini artinya Belanda
sudah datang pada tahun 1869. Ugh, sayangnya, enggak ada orang yang bisa
ditanyakan. Benar-benar sepi . Yang ada cuma deburan ombak aja. Ya, keles nanya
sama rumput bergoyang? Wkwkwkwk….
Akhirnya, saya beranjak
untuk menyusuri pinggir pantai yang
sudah ditembok—seperti benteng pendek—terdapat
sebuah pohon yang tumbuh sendirian.
“Apa ini akibat abrasi ya?” tanya saya. Alhasil, kalau mau dibilang mana pantainya? Jadi bingung, karena sudah berbentur dengan laut dangkal.
“Apa ini akibat abrasi ya?” tanya saya. Alhasil, kalau mau dibilang mana pantainya? Jadi bingung, karena sudah berbentur dengan laut dangkal.
Sekolah
yang Modern
Saya juga menyempatkan berkunjung ke sekolah yang ada di sana. Tak disangka, sekolahnya ini lebih bagus dari kebanyakan SD dan SMP Inpres di Kota Jakarta. Namanya SD-SMP Negeri Satu Atap 02 Pulau Sabira.
Sekolahnya ini berlantai
keramik putih. Ada pula alat peraga yang lengkap. Bahkan, dilengkapi dengan
pendingin ruangan (AC). Kelas benar-benar bersih.
Begitu ditanya kepada salah
satu guru, Haji Jamil Fahmi, sayangnya, AC tidak dapat digunakan setiap saat
karena bergantung pada kondisi PLTS.
Yang memprihatikan, gedung
yang ‘wah’ tak sepadan dengan tenaga pengajar. “Di sini gurunya hanya 7 orang, padahal siswanya bisa ratusan.
Jadi, ada yang ngajar dobel, SD dan SMP. Rata-rata anak-anak di sini pas SMA
pergi ke Pulau Pramuka atau ke Jakarta,” ujar Haji Jamil.
Sebenarnya masih banyak
segudang cerita. Tapi, sepertinya kata-kata ini tak pernah cukup. Tapi, yang
jelas, inilah wajah Pulau Sabira. Semoga
masyarakat luas semakin peduli dan
Pemerintah juga benar-benar melakukan pemerataan pembangunan. Ini juga bagian
Jakarta, yang dielu-elukan sebagai kota modern itu. Jayalah terus Indonesiaku! Je t’aime ….
PS: Perjalanan ke Pulau Sabira, Juni 2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar