Sejujurnya
tanpa direncanakan, aku menemukan
kembali
tulisan kegalauanku di masa lalu. Ya!
Inilah kisahnya…
Jogjakarta,
September 2011, di RS Bethesda…
@Aryeenmita, Yogyakarta, - Rasanya hari itu luar biasa
panik. Vonis dokter mengharuskan aku
cesar.“Haruskah, dokter?” tanyaku.
Dokter dengan tegas
menjawab,“Hanya itu cara terbaik menyelamatkan bayi. Dia terlilit dua kali tali
pusat dan kurang cairan ketuban. Bila terlalu lama menunggu, dia meninggal di
dalam rahim.”
“Saya tidak ingin mengambil
risiko. Paling lambat hari minggu, lakukan operasi caesar.”
Usai konsultasi, aku hanya
bisa terdiam sejenak memandang hasil USG. Dan masih terheran-heran, “Kan, kata dokter di
Jakarta, semua posisi persalinan
kondisinya bagus, tapi mengapa hasilnya berbeda, Aku benci caesar. Aku ingin merasakan
persalinan normal.”
Tak habis akal, aku langsng
mengaktifkan smartphone-ku. Ya, aku mulai cari tahu soal kondisi bayiku lewat
bantuan 'Mbah Google'. Waduh, memang benar. Bila menunggu terlalu lama,
justru bayiku yang ‘kasihan’.
Tak pikir panjang lagi, aku bbm suamiku, Tio, meminta saran terbaik mengenai keputusan apa yang terbaik.
Tak pikir panjang lagi, aku bbm suamiku, Tio, meminta saran terbaik mengenai keputusan apa yang terbaik.
“Ayah (panggilanku
kepadanya), aku takut. Ayah, datangnya hari sabtu pagi ya. Langsung ke RS.”
Tio menjawab,“Ya sudah, besok aku datang. Sudah tenang saja.
Semuanya pasti lancar.”
Lagi-lagi, aku tidak bisa
membendung air mata. Tiap lelehan air ini senantiasa memanjatkan doa yang tidak
putus-putusnya untuk menghindari tindakan caesar.
Jujur, aku tidak siap mental dan finansial. Semua yang kupersiapkan hanya untuk persalinan normal. Kalau begini hasilnya, rasanya ingin menyerah saja.
Hari itu, aku diantar Mama.
Langsung kuputuskan menanyakan total biaya caesar.
"Hah, perkiraan biaya kelas 1 memakan biaya 18 juta. Lalu, 11 juta
untuk kelas 2.Waduh, dapat uang dari mana? Mana uang kami tak seberapa,“ gumamku dalam batin.
Kepalaku tertunduk lesu. Duh, Belum lagi, pengeluaran bulan ini bejibun, apalagi biaya ini harus keluar dari
kantong pribadi.
Aku hanya bisa pasrah
sembari memanjatkan doa semoga ada jalan. Beruntung, setiap doa yang
terpanjat , Tuhan menjawab. Ada kebaikan yang tak terduga (Yes! There is the invisble hand ).
Akhirnya, semua berjalan
lancar dan lahirlah buah hati kami, Rafael Hadyatmo Aryaprastha.
Uniknya, nama anak kami ini
adalah gabungan dari nama Baptis (Rafael), eyang kakung (Hady + Atmo), dan
orangtuanya (Pras+ Mita)
Ya! Arya, panggilannya,
lahir 24 September pukul 12.30 dengan fisik yang sempurna.
Terima kasih atas
kebaikanMu….
Ps: Tiada yang mustahil bagi DIA saat tiada jalan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar