Minggu, 10 Agustus 2014

“Miracle” Itu Nyata…



@Aryeenmita, Bogor, - Baru kali ini, saya tersadar bahwa “Miracle” itu memang benar adanya dan nyata. Bukan hanya di kisah dongeng Princess belaka, yang selalu ada bantuan dari para peri mungil dan berakhir bahagia dengan seorang pangeran ganteng. 

Entah bagaimana memulai kisahya. Tapi, nyatanya kisah pertemuan kami, saya dan suami seperti dongeng. Jujur, saya sempat berpikir, apakah ini pengaruh dari novel yang saya baca. Ugh, entahlah…

Tapi, ini bukan dongeng romantis lho, tapi aneh…hahaha.

Bayangkan sejak SMP, dia itu musuh bebuyut saya. Pelit catatan, duh amit-amit deh. Malah ada cerita, ketika saya hanya menanyakan clue dari jawaban Biologi (saat ulangan sih, tapi asli kepepet. Jujur, bukan tipe nyontek, cuma nanya kata depan aja), eh, dia justru buang muka. Ih , kesel setengah mati. Padahal, saya ini sering banget bagikan contekan ke teman-teman yang kepepet enggak bisa jawab. Ya, tapi beneran sejak saat itu, bete banget.

Tapi, anehnya, dia seringkali ketahuan suka diam-diam memerhatikan saya. Ih, sori ya, enggak mau eke….hahaha.

Berlanjut ke SMA yang berbeda, tentu saja  kami tidak pernah bertemu. Tapi, ya kok dia sempat-sempatnya titip surat ke sahabat SMA saya. Sudah tahu saya bersekolah  di sekolah homogen, yang isinya perempuan semua. Ya, sudah tentu saya jadi bahan olokan. Ih, jadi makin bete. Tapi, ya mau gimana lagi.

Begitu masuk kuliah, dia nanya lagi jurusan dan kampus dimana. Ih, nyebelin. Kepo deh. Tapi, ya diterima aja. Wong, enggak masuk ‘hitungan’.

Setelah semuanya itu, kami lost in contact. Ya, kurang lebih hampir 10 tahun, akhirnya kami dipertemukan lagi. Tapi, lewat Friendster (skrg sudah wafat) dia coba mencari saya. Tapi, lagi-lagi saya cuek aja, ya udah di-add saja.

Tapi, entahlah perjalanan  cinta saya ini super duper complicated , sampai bikin Mama saya bingung, maunya saya itu apa… (maklum, bukan tipe rumahan).
Ya, saya enggak sampe hati menceritakan betapa ‘menderitanya’ saya harus menghadapi semuanya kala itu. Tapi, Tuhan memang punya cara berbeda. Ya, Dia menunjukkan bagaimana “Miracle” itu sungguh nyata.

Mungkin buat saya, dia (suami) tidak termasuk “hitungan”, tapi justru Tuhan  memberikannya untuk saya dengan cara yang unik.

Memang, dia hanya seseorang yang sederhana, tutur katanya, perilakunya. Malah, bisa dibilang saya harus belajar menerima pribadi yang kontras ini.

Tapi, begitu kami mengikatkan diri dalam tali pernikahan pada 07.08.09 di Yogyakarta, percaya atau tidak. Muncullah “Miracle-miracle” mungil yang kami peroleh.

Hingga kini, saya yakin “Miracle” sesungguhnya itu adalah Dia, kamu, dan si Kecil.
Ayo, kita jalani bersama semuanya!...

Jangan Cintai Aku Apa Adanya by Tulus

Jangan cintai aku
Apa adanya
Jangan

Tuntutlah sesuatu
Biar kita jalan
ke depan

Minggu, 03 Agustus 2014

Ingat-ingat Lagi Batu Caves



@Aryeenmita, Kuala Lumpur, – Lagi-lagi @Aryeenmita iseng-iseng buka laptop. Eh, kok ada ya foto-foto jalan-jalan pas dua tahun lalu. Ya, lumayan deh, coba ah diotak-atik, mungkin saja bisa jadi cerita…hahaha.


Sejujurnya, ini pertama kalinya @Aryeenmita mengunjungi bukit kapur. Dari kejauhan di bukit yang bernama Batu Caves ini sudah terlihat patung keemasan dengan tinggi 42,7 meter. Itulah patung Dewa Hindu yang bernama Dewa Murugan.

Tak hanya itu, di bawah kaki Dewa Murugan itu, puluhan burung merpati bebas beterbangan. Ah, mereka seakan mengucapkan selamat datang sebelum memasuki “Sang Penjaga” Batu Caves.

Puas “bermain” sejenak dengan burung-burung itu, @Aryeenmita bersama keluarga menatap ke atas. Wow! Ada ratusan anak tangga, yang mengantarkan yang berjumlah berjumlah 272 buah. Itulah penghubung yang mengantarkan @Aryeenmita menuju salah satu Gua utama dari tiga Gua di Batu Caves, yakni Gua Kuil.



Saat menuju Gua Kuil, bersiaplah bertemu dengan monyet berekor panjang yang menemani Anda menaiki anak tangga. Hmm…tapi, berhati-hatilah dengan aksinya, apalagi kalau Anda membawa makanan atau sedang mengemil makanan .

“Awww…” begitulah teriakan salah satu pengunjung yang sontak menarik perhatian. Ternyata, ada seekor monyet mencuri paksa biskuit, lalu dia tetap membuntuti pengunjung itu. Alhasil, pengunjung pun menyerahkan sebungkus biskuit tersebut.

Anehnya, tiba-tiba saja banyak monyet ‘turun’ dari persembunyian dan saling berebut makanan. Sayangnya, kalau mau mengambil potret monyet ini sedikit waspada sebab agak ‘galak’. Meski begitu, aksi ‘nakal’ nya ini sempat mengocok perut, sekaligus membuat bulu kuduk merinding.

Setelah berhasil mengalahkan 272 tangga, tibalah saatnya Anda pemandangan Gua utama ini dihiasi lukisan mengenai mitos epik India. Di sini pula, terlihat umat Hindu, khususnya dari India tengah khusuk berdoa. 

Namun, di satu sisi, @Aryeenmita agak terusik dengan aroma tak sedap dari gua. Ya, mungkin ini bau dari kotoran kelelawar yang berserakan, entah itu di dalam dinding gua, jalanan, hingga pegangan tangga.

Terlepas dari semuanya itu, bila Anda hendak datang ke Batu Caves, cobalah datang di bulan Februari. Sebab Anda dapat menyaksikan Festival Thaipusam, ritual agama Hindu dengan membawa wadah berisi susu kepada Dewa Murugan.

Jumat, 01 Agustus 2014

Eh, Kok Ada Website Tetangga? Jadi Malu …hehehe



@Aryeenmita, Bogor, - Sudah lama sih, si Tomi nanyain via chatting tentang resolusi tahun depan alias tahun 2014.

Tomi: “Mita, mau tahu dong resolusi ringan loe buat tahun depan?”

Aryeen: “Eh, iya apa ya? Lagi mikir nih..hehehe.”

Tomi: “Yang ringkas aja, asal bisa dilakuin.”

Aryeen: “Ya udah , gue pengin enggak panikan aja deh.”

Tomi: “Oke…thanks ya”

Hari ini, tumben penginnya kok saya browsing melulu ya. Eh, kok tahu-tahu ada resolusi saya yang ditanyain sama si Tomi. Eh, bole deh screenshot  dulu….wkwkwk. 

PS: Mulai berkurang panikannya…Amin…amin  *let’s positive thinking*

Jadi Pencicip Pertama Varian Baru Haagen-Dazs



@Aryeenmita, Jakarta, - Entah karena sangat terik ya hari ini, @Aryeenmita coba mengisahkan kembali pengalaman pertama makan es krim keluaran baru Haagen-Daaz.


Ya, waktu itu, @Aryeenmita berkesempatan datang ke gerai Haagen-Dazs di Pacific Place, SCBD, Jakarta.

Memang kala itu, Haagen-Dazs—yang telah berdiri sejak 1921—tengah   mengeluarkan varian baru. Dan kami dipersilakan mencicipinya terlebih dulu. 

Tahun ini, ice cream Haagen-Dazs  mengeluarkan tiga varian rasa. Sebut saja,  Caramel Biscuit  and Cream Carnival, Caramel Double Fantasy, dan Caramel Cookies Sensation.

Memang saat itu, @Aryeenmita menyaksikan Chef  Anwar, Chef Haagen-Dazs  yang memeragakan step by step pembuatan varian Caramel Biscuit and Cream Carnival.  @Aryeenmita pun memerhatikan dengan seksama.

Begitu  ditanya host, apa saja bahannya? @Aryeenmita dapat menjawabnya. Dan hadiahnya: menjadi orang pertama, pencicip ice cream Haagen-Dazs di Indonesia . Wah, senangnya!

Dibalik semua kebesaran brand luar negeri, apakah nantinya akan menyusul  es krim “rasa Indonesia” juga mendunia?

PS: Gerai Haagen-Dazs Pacific Place, Jakarta, Juni 2014